Rabu, 05 Maret 2008

AUTISME

PENDAHULUAN
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti diri sendiri dan “Isme” yang berarti suatu aliran. Istilah autisme pertama kali dikemukakan pada tahun 1943 oleh Kanner, psikolog dari universitas john Hopkins. Ia memakai istilah autisme untuk anak yang secara sosial tidak mau bergaul dan asyik tenggelam dalam kerutinan. Anak-anak yang harus berjuang keras untuk bisa menguasai bahasa lisan namun tidak jarang menyimpan bakat intelektual tinggi.

Gejala autisme tampak sebelum anak berusia tiga tahun. Bahkan pada usia autistik infantile gejalanya sudah ada sejak lahir. Diperkirakan 75%-80% penyandang autis mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu (savant).

DEFINISI
Autisme adalah gengguan perkembangan yang komplek menyangkut komunikasi, interaksi sosial, prilaku dan juga aktifitas imajinasi ang timbul dari disfungsi pada maturasi neurobiologis dan fungsi susunan saraf pusat atau terjadi oleh karena adanya kerusakan saraf di beberapa bagian otak.

ETIOLOGI

Sebenarnya penyebab atutisme hingga kini belum diketahui. Namun ada sementara ahli yang menduga autisme timbul karena beberapa faktor seperti kelainan genetika, imunologik, metabolisme, infeksi virus, dan lain-lain.

Terdapat teori yang mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan penting pada terjadinya autisme. Bayi kembar satu telur akan mengalami gangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukan dalam beberapa anak dalam satu keluarga atau dalam suatu keluarga besar mengalami gangguan yang sama.

Autisme bisa juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya, seperti infeksi dalam kandungan, pengaruh logam berat merkuri pada bayi dalm kandungan usia enam bulan, serta infeksi jamur pada wanita hamil seperti keputihan. Akhir-akhir ini penelitian imunologis terhadap penderita gengguan autisme membuktikan adanya inkomtabilitas (ketidakcocokan) imunologis antara ibu dan janin. Limfosit penderita ganguan autisme beraksi dengan antibodi ibunya, dan kemungkinan hal tersebut menjadi penyebab kerusakan jaringan neural embrionik atau ekstra embrional selama kehamilan.

Dalam kurun waktu 10 tahun ini banyak ahli berpendapat bahwa autisme adanya kelainan fungsi luhur di dalam otak. Kelainan fungsi ini dapat disebabkan :

trauma sewaktu bayi dalam kandungan --> misalnya karena keracunan kehamilan, infeksi virus rubella, virus cytomegalo dan sebagainya.

Kejadian segera lahir seperti kekurangan oksigen (anoksia).

Keadaan selama kehamilan seperti pembentukan otak yang kecil, misal vermis otak kecil yang lebih kecil atau terjadi pengerutan jaringan otak

kemungkinan terjadi kelainan metabolisme seperti penyakit addison, dimana bertambahnya pigmen tubuh dan kemunduran mental.

Akhir-akhir ini penelitian juga mengungkapkan hunbunhan antara gangguan pencernaan dengan gejala autistic 60% penderita autistic mempunyai system pencernaan yang kurang sempurna. Makanan tersebbut berupa susu sapi (casein) dan tepung terigu (glutein) yang tidak dicerna dengan sempurna. Protein tidak semua diubah menjadi asam amino tapi juga mengandung peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino yang seharusnya dibuang lewat urin.

Terbanyak pada penderita ini peptide diserap oleh tubuh, masuk kedalam aliran darah, masuk kedalam otak dan dirubah oleh reseptor opioid menjadi morfin yaitu casomorpin dan gliadorpin yang berefek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi otot terganggu. Fungsi otak yang terkena adalah fungsi kognitif reseptif, atensi dan perilaku.

GAMBARAN KLINIS

Gejala autisme pada umumnya antara lain, menolak untuk dipeluk, berjalan seolah-olah tidak melihat, tidak mau menengok bila dipanggil, tidak dapat menatap orang yang mengajak bicara, terlambat berbicara. Selain itu, anak sering menceracau, bicara dengan kalimat yang pendek dengan struktur yang salah, hanya menarik tangan orang lainbila menginginkan sesuatu, asyik bermain sendiri, sering melakukan gerakan berputar-putar, berjinjit, membenturkan kepala, senang memutar-mutar benda yang berputar, mengepak-ngepakkan tangannya, dan lain-lain.

Menurut faisal Yatim, autisme bukanlah gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap sekitar sehingga anak auatisme hidup dalam dunianya sendiri dengan kata lain anak autisme terjadi kelainan emosi, intelektual dan kemauan (gangguan pervasive).

Ciri-ciri autisme menurut Faisal :

1. tidak peduli dengan lingkungan sosial

2. tidak bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya.

3. perkembangan bahasa dan tidak normal

4. reaksi/pengamatan terhadap lingkungan terbatas/berulang dan tidak padam


KARAKTERISTIK

Anak autisme mempunyai masalah/ gangguan dalam bidang :

1. komunikasi

Ø Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali taidak ada.

Ø Anaktampak seperti tuli, sulit berbicara.

Ø Kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.

Ø Mengoceh tanpa arti berulang-ulang dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti

Ø Senang meniru / membeo (echolalia)

Ø Bila senang meniru, dapat hapal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya.

Ø Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.

Ø Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan misalnya ingin meminta sesuatu.

2. Interaksi sosial

Ø penyandang autistik lebih suka menyendiri

Ø tidak ada atau sedikit kontak mata atau menghindar untuk bertatapan, tidak tertarik untuk bermain bersama teman.

Ø Bila diajak bermain ia tidak mau dan menjauh.

3. Gangguan sensoris

Ø sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk

Ø bila mendengar suara keras langsung menutup telinga

Ø senang mencium-cium, menjilati mainan atau benda-benda

Ø tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut


4. Pola bermain

Ø tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya

Ø tidak suka bermain dengan anak sebayanya

Ø tidak kreatif, tidak imajinatif

Ø tidak bermain sesuai dengan fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar

Ø senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda

Ø dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana


5. Perilaku

Ø Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif).

Ø Memperhatikan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepalkan tangan seperti burung, erputar-putar, mendekatkan mata kepesawat TV, lari atau berjalan bolakbalik, melakukan gerakan yang berulang-ulang.

Ø Tidak suka pada perubahan

Ø Dapat pula duduk bergoyang dengan tatapan kosong.


6. Emosi

Ø Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa, menangis tanpa alasan yang jelas

Ø Temper Tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberi keinginannya

Ø Kadang suka menyerang dan merusak

Ø Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri

Ø Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain


PENGOBATAN

Paling penting dalam hal ini adalah deteksi dini dan penanganan dari autisme tersebut. Intervensi terpilih (intervension of choise) yang diyakini adalah menggunakan prinsip ABA (Applied Beaviour Analyst). Kelebihan metode intervensi ini adalah pendekatannya yang sistemik, terstruktur, dan terukur pada penyandang autisme untuk mengatasi ketidakmampuannya. Intervensi tidak bisa menyembuhkan 100 %, namun bisa mengurangi beban yang harus dipikul baik oleh sipenyandangnya maupun orangtua atau masyarakat sekitarnya. Menyerahkan penanganan kepada mereka yang tidak berkompetan akan membuat penanganan semakin lama sehingga semakin sukar untuk kembali normal.

Autisme tidak ada hubungannya dengan kecerdasan intelektual. Ada penyandang autisme yang pintar dan bisa jadi pembicara yang terkenal. Untuk itu, dia harus melengkapi diri dengan alat untuk meminimalkan masalah atau kekurangannya, misalnya membawa buku yang banyak yang dibaca sebelum presentasinya dimulai.

Semua ini bisa terjadi tentunya bila penyandang autisme itu telah di”sembuh”kan. Dalam penanganan akan diajarkan cara-cara mengatasi hambatan atau kekurangan akibat keadaan autistik. Jika sudah bisa untuk hidup mandiri, penderita autisme bisa hidup layaknya orang normal. Mereka bisa sekolah, bekerja dan lainnya.

Dulu penyandang autisme dianggap tidak punya masa depan. Sekarang peluang sembuh terbuka lebar. Anak autisme dikatakan sembuh bila mampu mengikuti sekolah reguler, berkembang dan hidup mandiri ditengan masyarakat dengan tidak menunjukkan gejala sisa.

Di Amerika atau diluar negeri dimana penyandang autisme ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar, bahkan sudah ada anak autisme yang bersekolah sampai S3, menikah dan memiliki anak bahkan menjadi pejabat.

Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan data terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan dan kini dapat hidup normal dan berprestasi.

1 komentar:

Wiwid Sapta mengatakan...

Anak sy terdeteksi Autis kata dokter spesialis anak..tp lucunya kl sendirian sprtiny Dia tdk suka..krn kl ad yg menemani Dia lbh ceria aplg kl kita canda2in :)